Follow my blog with Bloglovin

Hukum Aqiqah orang yang sudah meninggal

Agu 23, 2023 Kultur

Hukum Aqiqah Orang yang Sudah Meninggal

Hukum Aqiqah Orang yang Sudah Meninggal: Dalam agama Islam, tidak ada ketentuan khusus mengenai aqiqah bagi orang yang sudah meninggal. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa aqiqah hanya diperlukan untuk anak yang baru lahir. Sebagai gantinya, kita dapat mendoakan dan memberikan sedekah atas nama orang yang telah meninggal untuk mendapatkan keberkahan.

Definisi aqiqah

Aqiqah merupakan sebuah ibadah sunnah yang dilakukan oleh umat Muslim sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran seorang bayi. Secara harfiah, aqiqah berarti “memotong” dalam bahasa Arab. Ibadah aqiqah dilakukan dengan menyembelih seekor hewan ternak, seperti kambing atau domba, pada hari ke-7 setelah kelahiran bayi.

Hukum Aqiqah orang yang sudah meninggal
Hukum Aqiqah orang yang sudah meninggal

Daging hewan yang disembelih tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan, keluarga, serta tetangga terdekat. Selain itu, sebagian dari daging tersebut juga harus diberikan kepada fakir miskin sebagai tanda kepedulian sosial.

Aqiqah memiliki tujuan utama untuk merayakan kelahiran bayi, mengeluarkan sumpah dan kewajiban menjaga dan mendidik anak, serta mempererat tali silaturahmi antar keluarga, kerabat, dan masyarakat sekitar. Ibadah ini juga menjadi sarana untuk membersihkan dan membersihkan diri dari segala bentuk dosa serta sebagai bentuk syukur kepada Allah atas anugerah kelahiran yang diberikan.

Dalam Islam, aqiqah juga diyakini memiliki keutamaan yang besar. Diantaranya adalah mendatangkan berkah dan perlindungan bagi anak, memberikan kesempatan untuk ibadah dan amal perbuatan yang baik, serta sebagai sarana untuk menghilangkan hawa nafsu dan ketamakan yang berlebihan.

Tentunya, pelaksanaan aqiqah harus dilakukan dengan niat ikhlas dan penuh keikhlasan sebagai ibadah kepada Allah SWT.

Tujuan Pelaksanaan Aqiqah

Aqiqah memiliki beberapa tujuan yang meliputi:

  1. Menunjukkan rasa syukur kepada Allah: Aqiqah merupakan perayaan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah atas kelahiran seorang bayi. Dengan menyembelih hewan-qurban sebagai bagian dari aqiqah, kita menegaskan rasa syukur kita atas anugerah kehidupan yang diberikan Allah.
  2. Memperoleh berkah dan meningkatkan keberkahan dalam keluarga: Melalui aqiqah, keluarga mengharapkan berkah dan keberkahan dari Allah. Dalam tradisi islami, aqiqah juga dianggap sebagai sarana untuk melindungi bayi dari gangguan dan penyakit.
  3. Memberikan makanan kepada kaum miskin dan yang membutuhkan: Dalam aqiqah, daging hewan qurban dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan mereka yang membutuhkan. Hal ini menjadi bentuk kepedulian dan berbagi rezeki dengan kaum yang kurang mampu.
  4. Memperkuat tali persaudaraan dan hubungan sosial: Aqiqah merupakan momen yang dapat mengundang keluarga, tetangga, dan teman-teman untuk berkumpul dan berbagi kebahagiaan. Hal ini menjadi kesempatan untuk memperkuat tali persaudaraan dan hubungan sosial dalam komunitas.
  5. Memperkenalkan anak kepada komunitas Muslim: Aqiqah juga berfungsi untuk memperkenalkan anak kepada komunitas Muslim dan tradisi keagamaan yang ada dalam Islam. Melalui perayaan aqiqah, anak dapat diperkenalkan dengan nilai-nilai agama dan memahami pentingnya berbagi dengan sesama.

Melalui aqiqah, diharapkan keluarga dan anak dapat merasakan keberkahan, rasa syukur, dan tali persaudaraan yang kuat dalam komunitas Muslim..

Baca juga: Tulisan Tasyakuran Aqiqah

Hukum Aqiqah Bagi yang Sudah Meninggal

A. Pendapat Ulama tentang Pelaksanaan Aqiqah Bagi yang Sudah Meninggal

Pada dasarnya, mayoritas ulama berpendapat bahwa aqiqah tidak diperlukan bagi yang sudah meninggal dunia. Hal ini disebabkan aqiqah merupakan ibadah yang diperuntukkan bagi anak yang masih hidup, sebagai tanda syukur atas kelahirannya. Aqiqah juga memiliki tujuan untuk memberikan keberkahan dan perlindungan kepada anak tersebut.

Meskipun demikian, dalam beberapa mazhab, terdapat pendapat yang membolehkan pelaksanaan aqiqah bagi yang sudah meninggal dengan tujuan memberikan pahala untuk almarhum. Namun, perlu dicatat bahwa pendapat ini merupakan minoritas dalam pandangan ulama.

Dalam hal ini, sangat disarankan untuk mengikuti pendapat mayoritas ulama yang menyatakan bahwa aqiqah tidak diperlukan bagi yang sudah meninggal. Sebaiknya, mengalokasikan waktu dan sumber daya untuk melakukan amal ibadah yang lebih bermanfaat bagi almarhum, seperti memberikan sedekah, mengadakan doa bersama, dan membaca Al-Qur’an untuknya.

B. Dasar Hukum Aqiqah Bagi yang Sudah Meninggal

Dalam hal aqiqah, tidak terdapat dasar yang jelas dalam Al-Qur’an dan hadis yang mengatur tentang pelaksanaan aqiqah bagi yang sudah meninggal. Oleh karena itu, mayoritas ulama memandang bahwa aqiqah tidak perlu dilaksanakan bagi yang sudah meninggal.

Dalam Islam, perhatian utama setelah seseorang meninggal adalah memohon ampunan Allah SWT untuknya, mendoakan agar ia ditempatkan di Surga, dan melanjutkan amal ibadah yang dapat memberikan manfaat dan pahala bagi almarhum. Dengan demikian, lebih penting untuk fokus pada kegiatan seperti doa, istighfar, dan sedekah untuk mendukung kebaikan dan amal jariyah bagi yang sudah meninggal.

Jika terdapat keinginan untuk menyelenggarakan acara atau berbagi rejeki kepada orang lain sebagai bentuk amal untuk almarhum, hal ini tetap diperbolehkan. Namun, penting untuk tetap mengutamakan ibadah yang lebih bermanfaat dan memberikan manfaat jangka panjang bagi almarhum.

Catatan: Sebaiknya berkonsultasi dengan ulama atau ahli agama untuk mendapatkan pandangan yang lebih spesifik berdasarkan mazhab atau tradisi keagamaan tertentu.

Prosedur Pelaksanaan Aqiqah Bagi yang Sudah Meninggal

Aqiqah adalah salah satu ibadah yang dianjurkan dalam agama Islam sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran seorang anak. Namun, ada juga situasi di mana seseorang yang sudah meninggal tidak sempat melaksanakan aqiqah selama hidupnya. Berikut adalah prosedur pelaksanaan aqiqah bagi yang sudah meninggal:

A. Persiapan sebelum pelaksanaan aqiqah

Sebelum melaksanakan aqiqah bagi yang sudah meninggal, ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan:

  1. Menentukan waktu: Pilihlah tanggal yang sesuai untuk melaksanakan aqiqah, biasanya dilakukan pada hari-hari yang dianjurkan untuk berqurban.
  2. Pemilihan hewan kurban: Pilihlah hewan kurban yang sesuai dengan ketentuan syariat Islam, seperti kambing atau domba.
  3. Menyediakan tenaga ahli: Carilah seseorang yang berpengalaman dalam menyembelih hewan kurban dan membagikan dagingnya.

B. Tahapan pelaksanaan aqiqah bagi yang sudah meninggal

Setelah persiapan dilakukan, berikut adalah tahapan pelaksanaan aqiqah bagi yang sudah meninggal:

  1. Pemilihan hewan kurban: Pilihlah hewan kurban yang sehat dan memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan agama Islam.
  2. Penyembelihan hewan kurban: Sembelihlah hewan kurban dengan cara yang benar dan sesuai dengan syariat Islam. Pastikan proses penyembelihan dilakukan oleh orang yang ahli dalam menyembelih hewan kurban.
  3. Pembagian daging kurban: Setelah penyembelihan selesai, bagikanlah daging kurban kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti keluarga, tetangga, atau fakir miskin. Pastikan pembagian dilakukan dengan adil dan merata.
  4. Doa dan dzikir setelah pelaksanaan aqiqah: Setelah melaksanakan aqiqah bagi yang sudah meninggal, berdoalah untuk mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah. Selain itu, lakukanlah dzikir sebagai bentuk pengingat akan nikmat yang Allah berikan. Salah satu dzikir yang dianjurkan adalah membaca tasbih, tahmid, dan takbir.

Melaksanakan aqiqah bagi yang sudah meninggal adalah bentuk ibadah yang dapat mendatangkan keberkahan bagi almarhum dan juga keluarganya. Semoga Allah menerima amal ibadah yang dilakukan dan mengampuni dosa-dosa mereka. Aamiin.

Hadits berkenaan dengan Aqiqah

Berikut adalah sebuah hadis yang berkenaan dengan aqiqah:

Dari Aisha radhiallahu ‘anha, ia berkata: “Seorang anak Aqiqah dikhitan pada hari ketujuh setelah lahirnya, diberi nama dan dicukur rambutnya. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa untuknya dan menyembelih seekor kambing.”

(HR. Abu Dawud no. 2838, At-Tirmidzi no. 1522, dan Ibnu Majah no. 3161)

Hadis ini menjelaskan bahwa ketika melakukan aqiqah, Rasulullah SAW melakukan beberapa tindakan yang termasuk dalam tradisi aqiqah. Setelah lahir, anak tersebut diberi nama, dicukur rambutnya, dan dikhitan pada hari ketujuh setelah kelahirannya. Selain itu, Rasulullah juga berdoa untuk keberkahan anak tersebut dan menyembelih seekor kambing sebagai komponen penting aqiqah.

Kesalahan pemahaman mengenai aqiqah

Banyak diantara kalangan masyarakat yang justru mementingkan aqiqah kepada yang sudah meninggal daripada beraqiqah kepasa anak yang belum baligh. Punjuga demikian, medahulukan aqiqah untuk orang yang meninggal padahal disaat waktunya ibadah qurban tiba. Padahal sebenarnya, aqiqah merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan dalam agama Islam sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran seorang anak. Aqiqah dilakukan dengan menyembelih hewan ternak seperti kambing atau domba, kemudian dagingnya dibagikan kepada yang membutuhkan.

Namun, dalam prakteknya, banyak orang yang terlalu fokus pada aqiqah untuk orang yang sudah meninggal dan mengabaikan aqiqah untuk anak yang masih kecil. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti tradisi yang turun temurun atau kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama secara menyeluruh.

Sebaiknya kita kembali mengingatkan pentingnya menjalankan aqiqah sesuai aturan yang telah ditetapkan. Aqiqah untuk anak yang masih hidup adalah bentuk penghargaan kepada anak atas kelahirannya. Selain itu, aqiqah juga dapat menjadi sarana untuk berbagi rezeki dengan sesama. Sebagai umat muslim, kita juga di anjurkan untuk mengutamakan ibadah qurban pada waktunya yang telah ditentukan, karena qurban memiliki keutamaan yang sangat besar dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat yang membutuhkan.

Dalam Islam, setiap ibadah memiliki hikmah dan tujuannya masing-masing. Kita perlu hadirkan keseimbangan antara aqiqah untuk anak yang masih hidup dan ibadah qurban pada saat yang tepat. Dengan memahami dan menjalankan ajaran agama dengan baik, kita dapat menegakkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari dan memperoleh berkah dari-Nya.

SHARE NOW